Minggu, 14 Agustus 2011

Selasa, 19 April 2011

"From" and "To"

“From” and “To”
The heart’s hijrah requires migrating “from” one state “to” another. A person migrates with his heart:
from loving other than Allāh to loving Him;
from offering servitude to other than Allāh to offering it to Him;
from fearing other than Allāh to fearing Him;
from having hope in other than Allāh to having hope in Him;
from relying on other than Allāh to relying on Him;
from asking and imploring other than Allāh to asking and imploring Him;
from surrendering and submitting to other than Allāh to surrendering and submitting to Him.
This is precisely the meaning of “fleeing unto Allāh”, as Allāh (subhanahu wa ta’ala) says:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
…Flee then unto Allāh…
[Adh-Dhāriyāt 51:50]
And indeed, the tawheed required from a person is to flee from Allāh unto Him!
Under this heading of “from” and “to” falls a great reality of tawheed.

Fleeing unto Allāh
Fleeing unto Allāh (subhanahu wa ta’ala) includes turning to Him alone for appeal, worship, and all that proceeds from it, such as love, fear, surrender, and reliance. Thus, it includes the tawheed of Ilāhiyyah, which is the common subject among the messengers’ messages – may Allāh bestow His praise and peace upon them all.
Fleeing from Allāh
On the other hand, fleeing from Allāh (unto Him) includes the tawheed of Ruboobiyyah and affirmation of Qadar. It professes that whatever one hates or fears or evades in the creation only takes place by Allāh’s will.
Indeed, whatever Allāh (subhanahu wa ta’ala) wills surely happens, and its existence becomes mandatory by virtue of Allāh’s will. And whatever Allāh does not will never happens and is impossible to exist.
Thus when one flees unto Allāh, one would actually be fleeing (unto Him) from a thing that occurred by His will and decree. In other words, one would be fleeing from Allāh unto Him!
One who properly understands this would then understand the meaning of the Prophet’s (salAllāhu ‘alayhi wasallam) words:
“I seek refuge from You in You” [1]
One would then also understand the Prophet’s (salAllāhu ‘alayhi wasallam) saying:
“…There is no shelter or escape from You except to You…” [2]
There is nothing in the creation from which one would flee or seek protection but is created and originated by Allāh (subhanahu wa ta’ala) . Therefore, one would flee from what is mandated by Allāh’s decree, will, and creation; and one would flee to what is mandated by Allāh’s mercy, goodness, kindness, and bounty. Hence, one flees from Allāh unto Him, and seeks refuge in Him from Him!



Footnotes:
1. This is part of a hadeeth recorded by Muslim from ‘Aa’ishah (radiAllāhu ‘anha) who said that one night she missed Allāh’s Messenger (salAllāhu ‘alayhi wasallam). After some search, she found him in the Masjid (which was adjacent to her apartment). In the darkness, her hand hit the soles of his feet that were erected (in sujood). He was saying:
“O Allāh! I seek protection from Your wrath in Your acceptance, and from Your punishment in Your pardon, and from You in You! I cannot offer You the praise that you deserve, so I only praise You as You praise Yourself.”
2. This is a part of a hadeeth recorded by al-Bukhāri and Muslim from al-Barā’ Bin ‘Aazib (radiAllāhu ‘anhu) that the Messenger (salAllāhu ‘alayhi wasallam) instructed a man to say when going to bed:
“O Allāh! I submit myself to You, turn my face unto You, support my back unto You, and rely in my affairs on You, hoping in You and fearing You; there is no shelter or escape from You except to You! I believe in the Book that You have revealed and in the Messenger You have sent.”
He (salAllāhu ‘alayhi wasallam) added: “If one dies (after saying this), he dies upon the fitrah (pure nature).”

Transcribed from: Ar-Risalat ut-Tabukiyyah | The Message from Tabuk | Ibn ul-Qayyim

Editor: Abu Abdirrahman Al-Atsari

Senin, 18 April 2011

Kaidah Pertama: Ilmu; Mengenal Allah [1]

Bismillahhirrohmanirrohiim


Dalam jurnal saya sebelum ini (lihat http://abuabdirrahmanalatsari.blogspot.com/2011/04/keutamaan-ilmu.html) kita sudah membahas berbagai keutamaan ilmu, terutama ilmu yang hukumnya fardhu 'ain (wajib) bagi kita untuk dipelajari, yaitu ilmu agama yang benar sesuai dengan Al-Qur'an, As-Sunnah, dengan pemahaman para pendahulu yang shaleh.



InsyaAllah dalam jurnal berikut ini, saya akan membawakan kaidah pertama yang wajib seorang muslim mengetahui atasnya. Yaitu ilmu dalam mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama islam, dengan dalil-dalilnya.






I. MENGENAL ALLAH


    Wajib bagi kita untuk mengenal Allah subhanahu wa ta'ala dengan hati, pengenalan yang dapat membawa kita kepada menerima syari'at yang telah diturunkan Allah kepada kita, tunduk dan ta'at kepada-Nya serta menggunakan hukum yang telah diturunkan-Nya yang telah dibawa oleh Rasul-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagai seorang hamba, kita dapat mengenal Allah dengan memerhatikan ayat-ayat syar'iyah yang ada di dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu'alaihi wasallam, selain itu kita juga harus memerhatikan ayat-ayat kauniyah, yaitu makhluk-makhluk-Nya. Karena manusia tatkala memperhatikan ayat-ayat tersebut akan bertambah ilmunya tentang Sang Pencipta dan sesembahannya


Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:


وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ [٥١:٢٠


وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [٥١:٢١


Artinya: "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (Adz-Dzariyat 20-21)





Firman Allah ta'ala dalam ayat yang lain:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaKu." (Adz-Dzariyat: 56)





Firman Allah ta'ala dalam surat yang lain:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٢:٢١

Artinya: "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa" (Al-Baqoroh: 21)




Baiklah, sekarang mari kita bahas tafsir ayat-ayat diatas.




Untuk surat Adz-Dzariyat ayat 20, Firman Allah ta'ala: <<وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ >> "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.


    Maksudnya, di dalam bumi itu terdapat berbagai tanda yang menunjukkan keagungan Penciptanya dan kekuasaan-Nya yang sangat jelas berupa berbagai macam tumbuhan, binatang, hamparan bumi, gunung, tanah kosong, sungai, lautan dan berbagai macam bahasa dan warna kulit ummat manusia, serta sesuatu yang telah ditakdirkan untuk mereka berupa keinginan dan kekuatan, dan apa yang terjadi di antara mereka berupa perbedaan tingkat dalam hal pemikiran, pemahaman, dinamika kehidupan, kebahagiaan, kesengsaraan, dan hikmah yang terdapat di dalam anatomi tubuh mereka, yaitu dalam menempatkan setiap anggota tubuh dari keseluruhan tubuh mereka pada tempat yang benar-benar mereka perlukan.


    Maka dari itu Allah ta'ala berfirman: <<وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ >> "Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?" Qatadah mengemukakan: "Barang siapa bertafakkur (memikirkan) penciptaannya dirinya sendiri, maka ia akan mengetahui bahwa dirinya itu hanya diciptakan dan dilenturkan persendiannya semata-mata untuk beribadah."




Untuk surat Adz-Dzariyat ayat 56, Firman Allah ta'ala: <<وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ >> "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaKu.


    Maksudnya, Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. 


Mengenai firman Allah Ta'ala: <<إِلَّا لِيَعْبُدُونِ>> "Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.


    'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "Artinya, melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa." Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.


    Sedangkan Ibnu Juraij menyebutkan: "Yakni, supaya mereka mengenal-Ku."


    Pendapat Ar-Rabi' bin Anas mengatakan: "Maksudnya, tidak lain kecuali untuk beribadah."


    As-Suddi mengemukakan: "Di antara ibadah itu ada yang bermanfaat dan ada pula yang tidak bermanfaat."Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan sesungguhnya jika engkau tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab: 'Allah'." (Luqman: 25)




Dalam surat Al-Baqoroh ayat 21, Allah Tabaroka wa Ta'ala menjelaskan tentang keesaan uluhiyah-Nya.


    Bahwa Dia yang memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada menjadi ada, serta menyempurnakan bagi mereka nikmat lahiriyah dan batiniyah, yaitu Dia menjadikan bagi mereka bumi sebagai hamparan seperti tikar yang dapat ditempati dan didiami, yang dikokohkan dengan gunung-gunung menjulang, dan dibangunkan langit sebagai atap, sebagaimana firman-Nya:
<<وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ>> "Dan Kami telah menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari ayat-ayat Kami." (Al-Anbiyaa': 32)


    Allah juga menurunkan air hujan dari langit bagi mereka. yang dimaksud (dengan langit) disini adalah awan yang turun pada saat dibutuhkan oleh mereka. Lalu Dia mengeluarkan bagi mereka buah-buahan dan tanaman seperti yang mereka saksikan, sebagai rizki bagi mereka dan ternak mereka.


    Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: "Aku pernah bertanya: 'Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?' Beliau menjawab: 'Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu.'" (HR. Bukhori dan Muslim)


    Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu'. Maka beliau bersabda: 'Apakah engkau menjadikan aku sebagai tandingan Allah?' Katakanlah: 'Atas kehendak Allah saja.'" (HR Ibnu Mardawaih [ada yang menyebutkan Marduyah], an-Nasa'i dan Ibnu Majah)




Semuanya itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian tauhid. Wallahu a'lam

Disusun di Surabaya, Senin, 18 April 2011
Penulis: Abu Abdirrahman Al-Atsari


Maraji':
1. Al-Qur'an Al Karim
2. Kitab Ats-Tsalatsatil Ushul, Muhammad bin Abdul Wahab
3. Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim (Tafir Ibnu Katsir, tahqiq: Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdirrahman bin Ishaq Alu Syaikh)

Minggu, 17 April 2011

Keutamaan Ilmu

Firman Allah Ta'ala:


وَالْعَصْرِ [١٠٣:١
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ [١٠٣:٢
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣:٣

    Artinya: Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran (Surah Al-'Ashr : 1-3)

    Al'Ashr mempunyai arti masa yang di dalamnya berbagai aktivitas anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam:"Kata al-'Ashr berarti shalat 'Ashar". Dan yang populer adalah pendapat pertama.

    Dengan demikian, Allah Ta'ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa.







                      إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ 
                           "Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh"
    Dengan demikian, Allah memberikan pengecualian dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shalih melalui anggota tubuhnya.

                              وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
                        "Dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran"
    Yaitu, mewujudkan bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang telah diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

                             وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
                                     "Dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran"
    Yakni bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.


PENDAPAT PARA IMAM

1. Imam Syafi'i rahimahullahu ta'ala
               "Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah kepada makhlukNya, tanpa                     hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka"

2. Imam Bukhori rahimahullahu ta'ala
               "Bab: Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Allah ta'ala berfirman:
    
                   فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (Surah Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) ... [1] Sebelum ucapan dan perbuatan.


DEFINISI ILMU

Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.


TINGKATAN ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa Ilmu dibagi menjadi enam tingkatan:

1. "Al-Ilmu"
    Mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti

2. "Adh-Dhan"
    Mengetahui sesuatu disertai dengan prosentase kebenarannya lebih besar

3. "Asy-Syak"
    Mengetahui sesuatu disertai dengan prosentase kebenaran dan kesalahannya sama

4. "Al-Wahm"
    Mengetahui sesuatu disertai dengan prosentase kebenarannya sangat kecil

5. "Al-Jahlul Murokab"
    Mengetahui sesuatu berlawanan dengan hakikat yang sebenarnya

6. "Al-Jahlul Bashith"
    Tidak mempunyai pengetahuan sama sekali


MACAM DAN SIFAT ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ilmu dibagi menjadi dua;

1. Ilmu Dharuri
    Ilmu yang diketahui umum, yang mana cara mengetahuinya tanpa harus melakukan penelitian dan pendalilan. Sebagai contoh: Ilmu bahwa api itu panas.

2. Ilmu Nadhri
    Ilmu yang cara mengetahuinya butuh penelitian dan pendalilan. Sebagai contoh: Bagaimana hukum sholat menggunakan kaos kaki.


Disusun di Surabaya, Ahad, 17 April 2011
Penulis: Abu Abdirrahman Al-Atsari






Maraji':
1. Al-Qur'an Al-Karim
2. Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim (Tafsir Ibnu Katsir, taqiq: Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdirrahman bin Ishaq Alu Syaikh)
3. Syarhu Kutaib Ats-Tsalatsatil Ushul (Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Abdul Azin bin Baaz)





Footnote:
1. Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al-'Ilm, bab 10



Pengamalan Tauhid dengan Murni Pasti Masuk Surga Tanpa Hisab

Oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


Firman Allah Ta’ala:



إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [١٦:١٢٠
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi teladan, senantiasa patuh kepada Allah dan menghadapkan diri ; dan sama sekali ia tidak pernah termasuk orang-orang yang berbuat syirik . [An-Nahl: 120]



وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ [٢٣:٥٩
Dan orang-orang yang mereka itu tidak berbuat syirik kepada Tuhan mereka. [Al- Mu'minun: 59] 

Hushain bin ‘Abdurrahman menuturkan:
Suatu ketika aku berada di sisi Sa’id bin Jubair, lalu ia bertanya: Siapakah diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam? Aku pun menjawab: Aku. Kemudian kataku: Ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak dalam keadaan shalat, tetapi terkena sengatan kalajengking. Ia bertanya: Lalu apa yang kamu perbuat? Jawabku: Aku meminta ruqyah [1]. Ia bertanya lagi: Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan hal itu? Jawabku: Yaitu : Sebuah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada kami. Ia bertanya lagi: Dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? Kataku: Dia menuturkan kepada kami hadits dari Buraidah ibn Al-Hushaib: 

لارقية إلا من عين أو حمة 

Tidak dibenarkan melakukan ruqyah kecuali karena ‘ain [2] atau terkena sengatan

Sa’id pun berkata: Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya; tetapi Ibnu ‘Abbas menuturkan kepada kami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: 


حدثنا ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال " عرضت علي الأمم فرأيت النبي ومعه الرهط والنبي ومعه الرجل والرجلان والنبي وليس معه أحد إذ رفع لي سواد عظيم فظننت أنهم أمتي فقيل لي هذا موسى وقومه فنظرت فإذا سواد عظيم فقيل لي هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حسان ولا عذاب ثم نهض فدخل منزله فخاض الناس في أولئك فقال بعضهم فلعلهم الذين صحبوا رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال بعضهم فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئاً وذكروا أشياء فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه فقال هم الذي لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون فقام عكاشة بن محصن فقال ادع الله أن يجعلني منهم قال أنت منهم ثم قام رجل آخر فقال ادع الله أن يجعلني منهم فقال سبقك بها عكاشة

Telah dipertunjukkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang nabi, bersamanya beberapa orang; dan seorang nabi, bersamanya satu dan dua orang; serta seorang nabi, dan tak seorangpun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku suatu jumlah yang banyak; akupun mengira bahwa mereka itu adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku: Ini adalah Musa bersama kaumnya. Lalu tiba-tiba aku melihat lagi suatu jumlah besar pula, maka dikatakan kepadaku: ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang mereka itu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Kemudian bangkitlah beliau dan segera memasuki rumahnya. Maka orang-orangpun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Ada diantara mereka yang berkata: Mungkin saja mereka itu yang menjadi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada lagi yang berkata: Mungkin saja mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga tidak pernah mereka berbuat syirik sedikitpun kepada Allah. Dan mereka menyebutkan lagi beberapa perkara. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempel dengan besi yang dipanaskan, tidak melakukan tathayyur [3] dan mereka pun bertawakkal kepada Tuhan mereka". Lalu berdirilah ‘Ukasyah bin Mihshan dan berkata: Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka. Beliau menjawab: kamu termasuk golongan mereka. Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka. Beliau menjawab: Kamu sudah kedahuluan ‘Ukasyah. [4]

Kandungan Bab ini:
• Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam tauhid. 
• Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya. 
• Sanjungan Allah Ta’ala kepada Nabi Ibrahim, karena sama sekali tidak pernah termasuk orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah. 
• Sanjungan Allah kepada para tokoh wali , karena bersihnya diri mereka dari perbuatan syirik. 
• Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempel dengan besi yang dipanaskan dan tidak melakukan tathayyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni. 
• Bahwa tawakkal kepada Allah Ta’ala adalah sifat yang mendasari sikap tersebut. 
• Dalamnya ilmu para sahabat karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak dapat mencapai derajat dan kedudukan yang demikian itu kecuali dengan amal. 
• Gairah dan semangat para sahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan. 
• Keistimewaan umat Islam, dengan kuantitas dan kualitas. 
• Keutamaan pengikut Nabi Musa. 
• Umat-umat telah ditampakkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
• Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama nabinya. 
• Bahwa sedikit orang yang mengikuti seruan para nabi. 
• Nabi yang tidak mempunyai pengikut, datang sendirian pada hari Kiamat. 
• Buah dari pengetahuan ini adalah: tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak merasa kecil hati dengan jumlah yang sedikit. 
• Diperbolehkan melakukan ruqyah karena terkena ‘ain atau sengatan. 
• Dalamnya pengertian kaum Salaf, dapat dipahami dari kata-kata Sa’id bin Jubair: Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya; tetapi…dst. Dengan demikian jelaslah bahwa hadits pertama tidak bertentangan dengan hadits kedua. 
• Kemuliaan sifat kaum Salaf karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat-buat. 
• Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Kamu termasuk golongan mereka , adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau. 
• Keutamaan ‘Ukasyah. 
• Penggunaan kata sindiran. [5]
• Keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

[Disalin dari buku: "Kitab At-Tauhid Al-Ladzi Huwa Haqqullah Alal-Abid" Edisi Indonesia Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H]
_______
Footnote
[1]. Ruqyah, maksudnya disini ialah penyembuhan dengan pembacaan ayat-ayat Al Qur’an atau do’a-do’a.
[2]. Ain ialah pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui matanya; disebut juga kena mata.
[3]. Tathayyur ialah merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau beramal nasib buruk, karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.
[4]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim
[5]. Karena beliau bersabda kepada seorang yang lain: Kamu sudah kedahuluan ‘Ukasyah dan tidak bersabda kepadanya: Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka.

Sabtu, 16 April 2011

Tauhid, Prioritas Pertama dan Utama

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Meniti jalan Salafush Shalih merupakan keharusan bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah.



وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦:١٥٣

Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) [Al-An'am : 153]


Dalam tatanan realitas kehidupan, banyak ditemukan kejanggalan beragama di kalangan umat Islam. Mereka semakin jauh dari nilai ajaran Islam sehingga mereka hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Lebih bingung lagi pada waktu mereka mencoba mencari solusi problem agama dan kehidupan secara salah dengan mencoba menerapkan pemikiran dan ajaran jahiliyah. Maka akibatnya muncul berbagai macam sekte dan aliran sesar dengan menisbatkan ajaran mereka kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan orang musyrik seperti yang dituturkan dalam firman Allah.


 مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ [٣٠:٣١]
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [٣٠:٣٢

Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka [Ar-Ruum : 31-32]

Dalam tataran kehidupan ideal jarang kita dapatkan seorang muslim merujukkan permasalahan yang dia hadapi kepada pemahaman Salafush Shalih, maka banyak kejanggalan prilaku dan pola berfikir dalam pribadi mereka dan bahkan terkadang berseberangan dengan aqidah Salafush Shalih.

Padahal tidak mungkin perkara umat menjadi baik tanpa merujuk kepada generasi terbaik, terlebih dalam masalah aqidah dan agama.

Kita semua menyaksikan bahwa umat Islam hidup dalam keadaan mundur dan terpuruk dalam seluruh sisi kehidupan dan bahkan sampai pada titik nadir. Tetapi kondisi buruk itu tidak mungkin pulih dan umat kembali jaya kecuali dengan membenahi aqidah dan memurnikan tauhid, sebagiamana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Artinya : Jika kalian sibuk dengan perdagangan 'inah dan beternak hewan sapi serta bercocok tanam lalu meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan dan tidak akan bisa terlepas dari (kehinaan) hingga kamu kembali kepada agama kalian [Hadits Riwayat Abu Dawud]

Sehingga tidak ada solusi terbaik kecuali mengkaji ajaran Islam secara komprehensif dengan memprioritaskan tauhid tanpa harus menafikan cabang ilmu lain. Jika kita memperhatikan umat secara seksama, ternyata pengetahuan mereka tentang tauhid sangat rendah bahkan kebanyakan mereka belum memahami dengan baik makna dan konsekuensi kalimah syahadah La Ilaaha Illallah. Banyak diantara mereka melakukan pelanggaran dan pembatalan sayahadah tanpa ada beban, baik syirik, bid'ah maupun khurafat, barang yang paling mudah kita temukan apalagi transaksi kesyirikan dan kebid'ahan sangat marak di kalangan kaum muslimin

Bagi setiap kaum muslimin khususnya para da'i sebaiknya menyimak buku kecil ini agar bisa menentukan skala prioritas dalam berdakwah dan menyebarkan Islam sehingga setiap kaum muslimin akan menjadikan tauhid suatu yang paling urgen dan fundamental. Hanya dengan merealisasikan makna tauhid, umat Islam bisa bersatu dan kembali mengalami kejayaan.

Bagaimana umat Islam bisa bersatu jika mereka masih berselisih dalam masalah ideologi dan pemahaman aqidah. Maka menyatukan aqidah umat jauh lebih penting daripada menyatukan corak umat, meluruskan tauhid lebih urgen daripada meluruskan barisan dan merealisasikan aqidah yang kokoh dan bersih dari syirik, bid'ah dan khurafat lebih utama di atas segala bentuk kekuatan.

Semoga buku kecil ini mampu menumbuhkan kesadaran kita untuk kembali kepada manhaj dan aqidah yang benar dan sebagai koreksi total terhadap kesalahan masa lalu kita semua.


Penerjemah
Fariq Gasim Anuz



MUKADDIMAH

Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah, dan ampunanNya, serta kami berlindung kepad Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.

Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkan. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [٣:١٠٢

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam [Ali Imran : 102]


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [٤:١

Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu, yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu [An-Nisa : 1]


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا [٣٣:٧٠
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [٣٣:٧١
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar [Al-Ahzab : 70-71]

Wa ba'du.

Ini adalah risalah [1] yang sangat besar manfaat dan faidahnya baik bagi orang awam maupun kaum intelektual, karena didalamnya memuat jawaban dari seorang 'alim ulama masa kini yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah semoga Allah merahmatinya dan memberi (kita) manfaat dengan ilmunya-. Dalam risalah ini beliau menjawab suatu pertanyaan yang berkembang di kalangan orang-orang yang memiliki ghirah (semangat) terhadap agama Islam, mereka resah siang dan malam memikirkan pertanyaan ini dan hati mereka pun dibuat sibuk dengannya, inti pertanyaannya adalah :

Apa jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kebangkitan kaum muslimin ? Dan jalan apa yang harus ditempuh oleh mereka sehingga Allah memberikan kekuasaan kepada mereka serta menempatkan mereka pada suatu kedudukan yang layak dianatara umat-umat yang lain ?

Maka Al-Allamah Al-Albani -semoga Allah memberi (kita) manfaat dengan ilmunya- menjawab pertanyaan ini dengan tuntas dan jelas karena dirasakan bahwa umat sangat membutuhkan jawaban ini, maka kami memandang perlu untuk menyebarluaskannya.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga risalah ini bermanfaat dan semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslimin menuju apa-apa yang dicintai dan diridhaiNya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Mulia.


Darul Hadyi An-Nabawi

[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal V-4, terbitan Darul haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]
_________
Foote Note.
[1] Risalah ini aslinya berasal dari kaset yang direkam, kemudian ditulis, dan diterbitkan oleh Majalah As-Salafiyah No. 4 Th 1419H